Badar jualan gorengan di depan JCC. Niat hati nyari cuan, malah ikut turnamen.
Nama gue Badar. 20 tahun. Jualan gorengan keliling pake gerobak minjem bokap. Tiap hari rute gue: JCC, Sudirman, Thamrin, balik lagi ke pondok. Mayoritas pembeli gue karyawan kantoran yang laper mata, atau satpam yang iseng.
Hari ini beda. Hari ini JCC penuh banget. Ada acara "Game of The Year" โ turnamen game paling gede di Indonesia. Hadiahnya Rp 10 miliar. Gue liat orang-orang antre dari jam 7 pagi, pake jersey, bawa laptop sendiri, ada yang even bawa kursi gaming lipat.
"Kaya raya amat," pikir gue sambil ngerendemin pisang goreng.
Gak lama, pembeli pertama dateng: seorang cewek pake hoodie hitam, jilbab ijo army, tatapannya tajam. Dia mesen 5 pisang goreng.
Gue diem. Kagum. Cewek itu โ namanya Dea โ adalah pro player yang rankingnya nomor 1 se-Asia untuk kategori game battle royale. Dia dibayar tim esports gede, tapi kata dia "gak cukup." Bukan soal duit. Soal pengakuan.
Pas lagi ngobrol, tiba-tiba ada suara dari pengeras suara JCC:
"PERHATIAN! Kami masih membutuhkan 1 peserta lagi untuk turnamen GAME OF THE YEAR! Hadiah Rp 10 MILIAR! SIAPA CEPAT DIA DAPAT!"
Orang-orang pada teriak. Antrian makin panjang. Tapi gue? Gue cuma liat gerobak gue, liat dompet yang isinya 34 ribu, liat masa depan yang suram...
Terus Dea liat gue.
Kata "takut" bikin gue tersinggung. Lo tau, kadang hidup lo di titik di mana lo udah gak peduli sama rasa malu. Lo cuma pengen sesuatu berubah. Dan buat gue, momen itu adalah sekarang.
Gue tinggalin gerobak. Lari ke booth pendaftaran. Nama gue dicatat. Nomor peserta: 100. Peserta paling terakhir.
Gue gak tau kalo ini bakal jadi keputusan paling gila dalam hidup gue.
Gue masuk ke arena. Dan gue sadar... ini bukan turnamen biasa.
Arena turnamen ada di dalem JCC Hall A. 100 kursi gaming, masing-masing dengan setup lengkap: monitor 240Hz, kursi gaming ergonomis, headset noise-cancelling, dan โ yang paling aneh โ sebuah gelang di tangan kiri tiap peserta. Gelang hitam tebal, ada layar LED kecil yang nunjukkin detak jantung.
"Gelang biometrik," kata seseorang di sebelah gue. "Buat deteksi kondisi pemain."
Suasana tegang. 99 peserta lainnya keliatan serius. Ada yang lagi stretching jari, ada yang minum kopi, ada yang ngobrol soal strategi pake istilah-istilah yang gue gak ngerti โ "rotasi", "circle control", "peak", "third party". Yang gue tau cuma "gorengan" dan "kembalian."
Dea duduk di kursi nomor 1. Gue di kursi nomor 100 โ paling pojok, paling belakang. Sebelah gue ada bapak-bapak umur 42 tahun, pake seragam satpam, liat gue sambil senyum.
Gue baru mau nanya lebih lanjut, tapi lampu mati. Panggung utama nyala. Seseorang dengan jas hitam dan topeng emas naik ke panggung. Semua orang terdiam.
Hening.
Teriakan. Kepanikan. Beberapa orang berdiri, narik pintu โ terkunci. Beberapa teriak "PENIPUAN!" Yang lain nyari palu buat pecahin kaca.
Tapi gue? Gue diem. Gue liat Dea di kursi 1 โ dia juga diem. Matanya fokus. Bang Jack di sebelah gue malah silaturahmi, siap-siap.
Dan gue sadar sesuatu.
Dari 100 orang di ruangan ini, gue satu-satunya yang paling gak ngerti apa-apa. Tapi mungkin... justru itu yang bikin gue selamat.
100 pemain di-drop dari helikopter virtual. Dan yang noob... ya jatuh duluan.
Lampu di arena mati. Semua orang pingsan โ atau setidaknya, kesadarannya dipindah ke dunia virtual. Badar buka mata, dan dia udah gak di JCC lagi. Dia di dalam hutan. Hutan betulan. Bukan game render โ pohon beneran, angin beneran, tanah becek beneran.
Di sebelahnya, Bang Jack bersiap dengan posisi militer. "Ini hutan tropis. Bau tanah, suara burung. Mirip latihan dulu."
Dari langit, suara Zero bergema:
Badar nelen ludah. "Siaran langsung? Jadi... orang-orang di rumah bisa liat gue?"
Dari kejauhan, suara tembakan. Beneran. Bukan efek. Ada yang udah mulai saling serang.
Badar panik. "BAPAK KITA NGAPAIN?!"
Bang Jack narik Badar ke balik pohon. "Diem. Jangan bergerak."
Mereka ngintip. Dua pemain bertarung di lapangan terbuka. Yang satu pake senjata api, yang satu pake parang. Darah โ darah betulan โ berceceran. Bukan efek visual. Badar mau muntah.
Badar lemes. Lututnya gemetar. Tangan dingin. Tapi Bang Jack megang pundaknya.
Badar napas dalem. Liat ke langit. Liat ke hutan. Liat ke 98 pemain lain yang sekarang jadi musuh. Dan dia bilang dalam hati:
"Gue cuma jualan gorengan. Tapi kalo gue harus mati... gue gak bakal mati di sini."
Yang kuat saling bunuh. Yang lemah... malah bersatu.
Coki, si bocil 17 tahun, masuk arena dengan mental paling ancur.
Badar akhirnya harus bertarung. Bukan lawan pro player. Tapi lawan seorang anak SMP.
Challenge pertama: duel 1v1. Semua peserta dipasangkan secara acak. Badar dapet lawan: Coki โ si bocil 17 tahun toxic yang suka spam "noob" di chat. Coki liat Badar, ketawa. "HAHAHA GUE DAPET NOOB! GAMPANG INI!" Badar cuma diem. Dia gak tau cara main game ini. Gak tau kontrol, gak tau skill, gak tau apa-apa.
Tapi Badar tau sesuatu yang Coki gak tau: dia jualan gorengan tiap hari di pinggir jalan. Dia udah biasa dipalak, diusir satpam, dihujat pembeli. Mental Badar udah baja. Sedangkan Coki โ dia hancur pas senjatanya pertama kali miss.
Pertarungan dimulai. Coki pake karakter assassin, gerak cepat, pake combo. Badar? Dia lari. Muterin arena. Gak ngelawan. Coki ngejar, tapi Badar terus lari.
Badar gak cuma lari. Dia ngomporin. Tiap lari, dia ngomong sesuatu yang bikin Coki makin emosi. "Lo ranking berapa? 300? Kirain top 10." Coki makin kalap, makin ceroboh, makin banyak miss. Di menit ke-5, stamina Coki abis. Karakternya lemes. Badar โ yang tadinya lari โ balik badan, ambil benda pertama di lantai (tongkat kayu), dan mukul. Satu pukulan. Coki KO.
Badar ngeliat Coki yang pingsan di lantai. Bukan sombong. Tiba-tiba dia ngerasa... kasihan. Dia tau anak kayak Coki โ toxic karena broken home, karena gak ada yang ngajarin. Badar deketin, angkat Coki, bawa ke tim medis. "Dia cuma anak kecil yang butuh perhatian," kata Badar ke kamera. Dan siaran langsung โ yang ditonton 50 juta orang โ langsung viral.
Media sosial meledak. Badar jadi meme. Tapi Mr. X mulai khawatir.
Twitter Indonesia trending #1: "NOOB KING." Video Badar ngalahin Coki pake tongkat udah ditonton 20 juta kali dalam 2 jam. Orang-orang pada ngirim reaction: "INI BARU GAME," "BADAR PRESIDENT 2029," "GUE BARU PERTAMA KALI LIHAT ORANG MENANG PAKE LARI DOANG." Mr. X nonton dari ruang kontrol. Dahinya berkerut. Ini gak sesuai skenario. Yang dia mau tuh pertarungan sengit, darah, drama. Bukan... badut yang jadi pahlawan nasional.
Di dalem arena, Badar mulai dikelilingi pemain lain. Yang tadinya pada cuek, sekarang pada mau kenalan. "Lu tadi keren banget, Bang!" "Ajarin dong caranya!" Badar bingung. "Gue gak ngapa-ngapain. Gue cuma lari." Tapi di dunia di mana semua orang berusaha jadi yang terkuat, orang yang berani jadi yang terlemah โ malah jadi yang paling menarik.
Bang Jack nyamperin. "Lo tau kan, kalo lo mulai populer, lo jadi target?" Badar geleng. "Mr. X orang licik. Kalo lo jadi ancaman buat acaranya, lo bakal dihabisi." Badar nelen ludah. "Berarti... gue harus apa?" Bang Jack senyum. "Lo harus terus menang. Tapi dengan cara lo sendiri. Bukan cara mereka."
Mr. X ubah aturan. Sekarang yang kalah gak cuma gugur. "Yang kalah โ dihukum."
Di ronde kedua, Mr. X ngumumin aturan baru. "Kalian terlalu ramah. Penonton bosan. Mulai sekarang: yang kalah silang โ dihukum. Dan hukumannya: 1 minggu di rumah sakit." Penonton di luar bersorak โ mereka pikir ini efek spesial. Tapi pemain di arena tau ini nyata. Dea maju. "Kalo gitu, gue yang jadi korban pertama." Dia liat ke arah Mr. X dengan tatapan tajam. "Tapi gue jamin โ sebelum gue kalah, gue bakal bongkar semua kebusukan lo." Mr. X diem. Dea senyum sinis. "Siaran langsung, kan? 50 juta orang nonton. Pas."
Chaos mulai. Pemain pada protes. Coki โ yang udah sadar dari pingsan โ liat Badar dan bisik: "Bang. Maafin gue." Badar kaget. "Lo kenapa?" Coki: "Gue selama ini toxic karena... bokap gue suka mukul gue. Tapi lo... lo pertama yang gak benci gue." Badar peluk Coki. Adegan ini disiarkan live. Dan di ruang kontrol, Mr. X mukul meja. "CUT THE FEED!" Tapi udah telat. 50 juta orang udah liat.
Para pemain mulai bersatu. Bukan lawan satu sama lain. Tapi lawan Mr. X.
Dea ngumpulin pemain di satu sudut arena. "Kita harus keluar dari sini. Bukan dengan saling bunuh. Tapi berhenti main." Dia jelaskan rencananya: semua 100 pemain harus mogok. Gak ada yang bertarung. Gak ada yang ikut challenge. Mr. X butuh tontonan โ kalo gak ada tontonan, dia rugi. "Tapi dia bisa nyiksa kita," kata seseorang. Dea: "Bisa. Tapi kalo 100 orang ngalamin siksaan bareng-bareng, di depan 50 juta penonton โ itu bukan siksaan. Itu bukti."
Badar maju. "Gue ikut." Bang Jack ikut. Coki ikut. Satu per satu, semua pemain duduk di lantai. Diam. Mr. X dari ruang kontrol teriak: "SURUH MEREKA BANGUN!" Tapi gak ada yang gerak. 100 pemain duduk. Siaran langsung masih jalan. Penonton mulai bingung. "Kenapa mereka diem?" "INI REVOLUSI!" "MR. X KALAH!" Mr. X ambil mikropon. Suaranya bergetar. "Kalian pikir bisa ngalahin gue?"
Mr. X โ yang selalu pake topeng โ akhirnya buka. Dan wajah di balik topeng itu bikin semua orang kaget.
Mr. X buka topeng emasnya. Di baliknya, bukan wajah menyeramkan. Tapi wajah biasa โ bapak-bapak 50 tahun, rambut tipis, kacamata. Wajah yang gak bakal lo inget kalo lo papasan di jalan. "Nama gue... Herman. Gue owner stasiun TV terbesar di Indonesia. Dan gue bikin acara ini karena... gue butuh rating." Suaranya berubah. Dari dingin jadi getir. "Gue punya 3 stasiun TV yang nyaris bangkrut. Utang gue 2 triliun. Kalo gue gak dapet rating, 500 orang karyawan gue kena PHK. Jadi jangan salahin gue. Salahin sistem."
Hening. Badar berdiri. "Pak Herman. Gue anak jualan gorengan. Penghasilan gue 50 ribu sehari. Nyokap gue sakit, adek gue putus sekolah. Kalo lo bilang lo butuh rating buat nyelametin 500 orang โ gue butuh lebih dari itu buat nyelametin keluarga gue. Tapi lo liat gue bunuh orang? Gak. Gue milih jalan lain. Kenapa lo gak milih jalan lain?"
Herman diem. Mic di tangannya turun. Buat pertama kalinya, Mr. X โ penguasa absolut arena ini โ gak tau harus ngomong apa. Dan di luar arena, di rumah-rumah, 50 juta orang nangis nonton Badar, anak gorengan, yang ngajarin pelajaran hidup ke konglomerat media.
Mr. X nyerah. Tapi bukan karena dikalahin. Tapi karena diingetin.
Herman โ Mr. X โ matiin semua sistem. "Game selesai," katanya lewat speaker, suaranya lelah. "Kalian semua bebas. Hadiah Rp 10 miliar tetap gue bayar. Tapi..." dia ngeliat ke arah Badar, "...gue minta maaf. Sama kalian semua. Sama Indonesia. Sama..." suaranya pecah, "...sama anak gue." Ternyata โ plot twist paling besar โ Coki, si bocil toxic, adalah anaknya Mr. X. Coki diemin aja selama ini. Tapi Badar udah tau โ dari awal, Coki sering liat ke arah ruang kontrol. "Gue tau dari cara lo liat ke jendela kaca itu," bisik Badar ke Coki. "Anak yang pengen diperhatiin bapaknya." Coki nangis. Herman lari dari ruang kontrol, masuk arena, peluk anaknya. Dan 50 juta orang nonton, nangis bareng.
Badar pulang ke gerobaknya. Enam bulan kemudian...
Badar balik jualan gorengan. Tapi sekarang di depan toko โ bukan gerobak. Toko "Gorengan Noob" di pinggir jalan Thamrin. Antrian panjang tiap hari. Berkat hadiah Rp 10 miliar (yang beneran dibayar Herman), Badar buka usaha, Bayar biaya rumah sakit nyokap, sekolahin adek. Dan tiap Minggu, Badar ngadain "Ngobrol Santai" di tokonya โ forum buat anak-anak gamers yang punya masalah. Karena dia tau: kadang yang dibutuhin gamers bukan rank tinggi. Tapi temen ngobrol.
Coki dan Herman โ bapak-anak yang sekarang akur โ jadi pelanggan tetap. Bang Jack jadi satpam toko, pensiun beneran. Dea jadi co-owner, ngurusin pemasaran online. Dan acara "Game of The Year" gak pernah ada lagi. Tapi semangat Badar โ anak gorengan yang menang tanpa ngerti game โ jadi legenda.
Badar ngajarin Coki jualan gorengan. Coki belajar: hidup bukan cuma rank.
Dea cerita masa lalunya: jadi pro player cewek di industri toxic.
Semua peserta reunion. Cerita masing-masing. Ada yang udah berubah, ada yang masih sama.
Herman (Mr. X) buka yayasan anti-bullying gaming. Coki jadi brand ambassadornya.
Podcast nasional. Host: "Lo takut gak pas masuk arena?" Badar: "Takut. Tapi lebih takut gak berubah."
Gorengan Noob buka cabang. Dea jadi manager marketing. Badar fokus kualitas.
Coki pindah sekolah. Gak ada yang tau masa lalunya. Dia mulai dari nol.
Bang Jack cerita pengalaman perang beneran. Badar sadar: keberanian itu relatif.
TV milik Herman diaudit KPI. Izin siar dicabut. Herman jatuh miskin.
Coki depresi. Badar anter ke psikolog. Ini pertama kalinya Coki cerita ke orang lain.
Dea: "Gue iri sama lo." Badar: "Iri? Gue anak gorengan." Dea: "Lo bebas. Gue dari kecil dituntut jadi juara."
Anak-anak muda mulai dateng ke toko. Minta diajarin "cara jadi noob yang menang."
Franchise Gorengan Noob mulai. 10 cabang di Jabodetabek.
Coki ikut lomba debat tingkat kota. Juara 1. Herman nangis di barisan penonton.
Badar diundang UI. Orasi: "Dari jualan gorengan ke panggung nasional."
Dokumenter tentang "Game of The Year" dirilis. Viral lagi. Tapi kali ini sebagai kisah inspiratif.
Bang Jack pensiun jadi satpam. Badar kasih dia saham di perusahaan.
Nyokap Badar udah sembuh. "Makasih, Nak. Nyokap bangga."
Bapak-anak liburan pertama kalinya. Ke pantai. Gak ada game. Gak ada hp.
Dea ikut turnamen terakhir. Menang. Pensiun sebagai juara. Sekarang full-time di Gorengan Noob.
"The Art of Being a Noob" โ buku Best Seller. Tentang gimana kegagalan adalah superpower.
Polisi selidiki kasus "Game of The Year" lagi. Herman bisa dipenjara. Badar jadi saksi.
Sidang. Badar ngomong di depan hakim: "Pak Herman udah berubah. Hukuman yang manusiawi, Pak."
Herman divonis 2 tahun penjara. Coki nangis. Tapi dia tau: bapaknya butuh ini buat belajar.
Badar besuk Herman di penjara. Bawa gorengan. "Gorengan lo lebih enak dari makanan penjara."
Coki tinggal sementara di rumah Badar. Badar jadi figur ayah buat Coki.
Badar sadar: dia ada perasaan sama Dea. Tapi Dea โ yang dingin โ gampang baca. "Lo suka gue, ya?" Badar salah tingkah.
Badar ajak Dea dinner. Sederhana. Nasi goreng pinggir jalan. Dea: "Ini kencan terbaik gue."
Bang Jack masuk RS. Badar jagain tiap malam. Bang Jack: "Lo kayak anak gue."
Bang Jack wafat. Tenang. Badar pidato di pemakaman. Nangis. Tapi bangga.
Badar ngitung: 1000 hari dari "Game of The Year." Semua udah berubah total.
Netflix bikin dokumenter "The Noob Who Won." Badar: "Gue gak nyangka cerita gue sampe ke Netflix."
Badar nikah sama Dea. Sederhana. Di depan toko gorengan pertama. Coki jadi saksi.
Nyokap Badar meninggal setahun setelah pernikahan. Badar ikhlas. "Nyokap udah tenang."
Herman bebas. Coki jemput. Mereka pelukan. Badar liat dari jauh: "Dia udah beneran berubah."
100 cabang. 1000 karyawan. Sebagian besar mantan gamers yang butuh pekerjaan.
Badar ultah ke-40. Refleksi: dari gerobak ke 100 cabang. Tapi yang paling berharga: orang-orang di sekitarnya.
๐ TAMAT โ THE LAST NOOB STANDING
Badar di toko pertamanya. Gerobak lawas masih dipajang. Anaknya nanya: "Pah, kenapa gerobak ini gak dibuang?" Badar: "Soalnya dari sini semuanya dimulai." Coki โ sekarang 30 tahun, jadi manager utama โ dateng. "Bang, ada anak baru. Mau jadi noob kayak lo." Badar ketawa. "Bilangin: jadi noob itu keren."
Gorengan Noob go public. Saham naik 300% di hari pertama. Badar jadi miliarder dadakan. Tapi dia masih pake baju 30 ribuan.
Dea berenti dari bisnis gorengan. Buka akademi e-sports gratis untuk anak kurang mampu. "Gue tau rasanya punya mimpi tapi gak punya duit."
Coki masuk UI jurusan hukum. Pengen jadi pengacara. Badar: "Buat apa?" Coki: "Buat bela orang kecil kayak lo."
Coki stres. Nilai jelek. Badar dateng ke kosan, bawa gorengan: "Makan dulu. Otak lo butuh energi." Coki nangis.
Coki lulus cum laude. Badar & Dea di wisuda. Herman โ dari penjara โ nonton live streaming. Nangis.
Dea hamil. Badar panik. Beli buku parenting. Dea: "Lo santai aja." Badar: "Gimana santai? GUE BAKAL JADI BAPAK!"
Bayi lahir. Nama: Bintang. "Biar dia jadi cahaya." Badar gendong anaknya, nangis.
Badar ultah ke-45. Perusahaan punya 500 cabang. Tiap cabang punya program "Noob Scholarship" โ beasiswa buat gamers berprestasi.
Bintang 5 tahun. Main game pertama. Badar: "Inget, Nak. Game itu buat seneng-seneng. Kalo udah gak seru, berenti." Bintang: "Iya, Pa."
Acara "Kick Andy." Badar cerita perjalanan hidup. Host: "Apa rahasia sukses lo?" Badar: "Gak tau. Gue cuma jualan gorengan."
Herman bebas bersyarat. Coki jemput. Badar: "Mari kita maafin." Herman: "Gue gak pantas." Badar: "Semua orang pantas dapet kesempatan kedua."
Herman jadi manajer gudang. Gaji standar. Tapi dia seneng. "Dulu gue punya stasiun TV. Sekarang gue ngurus kentang."
Coki lulus ujian profesi. Jadi pengacara. Kasus pertama: membela anak gamers yang di-bully. Gratis.
Bintang masuk SD. Ditanya: "Bapak lo kerja apa?" Bintang: "Jualan gorengan." Temen: "Hah? Miskin?" Bintang: "Tapi bapak gue punya 500 toko."
Dea dipanggil Kemenpora jadi pelatih tim e-sports nasional. Indonesia juara SEA Games lagi.
Bintang ikut lomba coding. Juara 2. Badar: "Kenapa gak juara 1?" Bintang: "Karena gue masih belajar, Pa." Badar senyum: "Yang penting nyoba."
Coki menang kasus besar: seorang anak gamers ditahan karena "mencuri" item game. Hakim vonis bebas. Coki jadi viral: "PENGACARA GAMER!"
Badar 50 tahun. Refleksi. Dari gerobak ke 1000 cabang. Tiap tahun, dia ngadain "Noob Day" โ semua gorengan gratis.
Mereka balik ke warteg. "Lo masih inget?" Dea: "Setiap detik." Badar: "Gue gak nyangka." Dea: "Gue tau."
Herman wafat di kantor โ di gudang kentang. Coki nangis di pemakaman. "Bapak... lo udah berubah. Paham."
Coki beli rumah. Pertama kalinya punya tempat sendiri. Dindingnya dipajang foto Herman & Badar. "Keluarga baru gue."
Bintang SMP. Jago main game. Tapi dia pilih jadi developer. "Lebih seru bikin game daripada main."
Badar kena diabetes. Dea jagain. "Lo harus jaga makan." Badar: "Gorengan gue sendiri yang bikin gue sakit."
Bintang bikin game: "Noob Quest." Tentang anak jualan gorengan yang jadi pahlawan. Badar main. Nangis. "Ini gue."
Game Bintang di-download 10 juta kali. "Noob Quest" jadi game mobile paling populer. Bintang: "Ini buat Bapak."
Badar 60 tahun. Pensiun. Dea pensiun juga dari pelatih. Mereka jualan gorengan lagi โ di satu gerobak, di depan toko pertama. "Balik ke awal."
Coki nikah. Sama jurnalis yang nulis tentang kasus gamers. Badar jadi saksi. "Dari bocil toxic jadi pengantin."
Bintang lulus. Diterima di ITB. Badar bangga. "Anak gue kuliah." Bintang: "Berkat lo, Pa."
Game kedua Bintang: "The Last Noob Standing โ The Game." Adaptasi resmi dari buku Badar. Bintang: "Ini cerita bapak."
"The Last Noob Standing" dapet penghargaan Game of The Year. Bintang di panggung: "Buat Bapak, yang ngajarin gue: jadi noob itu keren."
Badar stroke ringan. Bintang pulang dari kampus. Jagain Bapak. "Lo istirahat, Pa. Gue yang jaga toko."
Setahun fisioterapi. Badar bisa jalan lagi. Tapi gak bisa jualan lagi. "Biarkan Bintang yang nerusin."
Dea kena kanker payudara. Badar dampingi tiap kemoterapi. "Lo kuat." Dea: "Gue tau. Lo di samping gue."
Setelah 2 tahun. Dea dinyatakan sembuh. Mereka liburan ke pantai. Dea: "Gue masih hidup." Badar: "Masih lama."
Bintang wisuda. Cum laude. Badar & Dea di barisan depan. Badar: "Anak gue sarjana."
Coki jadi partner di firma hukum. Spesialisasi: kasus gamers & digital. Majalah Forbes: "30 Under 30 โ Coki, The Gamer Lawyer."
Badar ultah ke-70. Bintang luncurkan game: "Noob Standing 2." Rilis bertepatan. Bintang: "Hadiah buat Bapak."
Dea wafat usia 72. Badar megang tangannya sampe ujung. "Sampe ketemu, Dea. Jaga diri di sana."
Badar tinggal sendiri. Tiap hari buka album foto. Bintang jenguk tiap minggu. Bawa gorengan. "Enak, Pa?" "Enak. Tapi gak seenak buatan nyokap lo."
Coki โ sekarang 55 โ dan Bintang โ 30 โ jadi partner bisnis. Mereka buka "Noob Foundation": yayasan yang ngasih beasiswa ke anak-anak gamers dari keluarga kurang mampu.
Badar 80. Pikun mulai. Tapi dia masih inget satu hal: cara buat gorengan. Bintang: "Pa, ajarin gue." Badar: "Lo udah bisa." Bintang: "Tapi pengen diajarin langsung."
Gerobak asli Badar dipajang di lobby "Noob Tower" โ gedung 50 lantai milik perusahaan. Di bawah gerobak, plakat: "Dari sinip semua bermula."
Badar meninggal usia 85. Tenang. Tidur. Bintang duduk di samping. "Makasih, Pa. Lo ngajarin gue: jadi noob itu gak apa-apa. Yang penting gak berhenti nyoba."
Pemakaman dihadiri ribuan orang. Dari menteri sampai tukang gorengan. Coki pidato: "Dia bukan pahlawan karena dia menang. Tapi karena dia berani jadi yang terlemah."
10 tahun setelah wafat. Cerita Badar jadi kurikulum di sekolah: "Kewirausahaan & Kegigihan." Anak-anak belajar: dari jualan gorengan bisa ubah Indonesia.
Makam Badar & Dea berdampingan. Di batu nisan: "Badar & Dea โ Noob & Pro. Akhirnya juara bareng."
Film biopik "The Last Noob Standing" rilis. Dibintangi aktor terkenal. Box office 3 triliun. Di akhir film: "Dipersembahkan untuk Badar โ yang ngajarin Indonesia: Noob is the new pro."
Bintang 60. Pensiun. Dia buka toko gorengan. Cuma satu. Di pinggir jalan. "Ini cara gue ngormatin Bapak."
100 tahun sejak Badar lahir. Pemerintah tetapkan 17 Juni sebagai "Hari Noob Nasional." Bukan buat ngejek. Tapi buat ngingetin: setiap orang berhak jadi pemula.
Di toko gorengan pinggir jalan Thamrin, seorang anak SD jajan. "Bang, gorengan 2 ribu." Penjualnya โ cicit Badar โ senyum. "Mau jadi noob?" Anak itu bingung. "Noob itu apa?" Cicit Badar: "Noob itu... orang yang berani mulai dari nol. Kayak embah gue dulu." Anak itu beli gorengan. Makan. "Enak, Bang!" Cicit Badar liat ke langit. "Dapet pesenan, Yah. Noob Standing terus."
๐ THE LAST NOOB STANDING โ TAMAT (100 CHAPTER)